Oleh: Arief Siddiq Razaan
AKU
menerimamu jadi pacar atas dasar cinta, kini atas dasar kesungguhan cinta pula
aku memutuskan hubungan kita. Pacaran itu mendekatkan diri pada zina, padahal
segala sesuatu yang membawa keburukan bukanlah tujuan sebuah cinta. Percayalah,
perpisahan menjadi pilihan bijaksana sebelum kita dilaknat Allah Swt karena
sama-sama belum mendewasa dalam memaknai hakikat kemuliaan cinta. Sungguh, kesempurnaan cinta itu ialah saling mendoakan keselamatan satu sama lain hingga takdir mempertemukan dalam ikatan rumah tangga.
sama-sama belum mendewasa dalam memaknai hakikat kemuliaan cinta. Sungguh, kesempurnaan cinta itu ialah saling mendoakan keselamatan satu sama lain hingga takdir mempertemukan dalam ikatan rumah tangga.
Bukankah
seburuk-buruknya pecinta apabila tak mampu menjaga pikiran, lisan dan perbuatan
dari segala sesuatu hal yang berpotensi menceburkan jiwa pada kubangan zina.
Bersebab itu, harusnya kita menginsyafi dengan kesungguhan yakin bahwa menjaga
satu sama lain agar tetap suci hingga menikah ialah tanggungjawab terbesar yang
harus dipikul.
Memilih
berpisah bukan berarti tiada menghargai perasaan yang pernah tumbuh di dalam
dada, tetapi sebuah upaya agar perasaan itu tumbuh pada tempat yang sepatutnya.
Menumbuhkan cinta pada doa, dalam kesadaran dan kepasrahan batin untuk menjaga
kemurnian sebuah cinta hingga merimbunlah syukur atas kesanggupan kita
merekahkan setia meski tiada mewujud pacaran.
Aku
mencintaimu karena Allah Swt, maka aku pasrahkan pada-Nya untuk menjagamu
sampai tiba waktu-Nya menghantarmu sebagai pasangan hidup yang sebenar halal
bagiku. Insya Allah, jikapun pada akhirnya aku bukanlah jodohmu sesungguhnya
itu jalan terindah yang ditetapkan-Nya. Sebab bisa jadi apa yang terbaik
menurut kita belum tentu yang terbaikbagi-Nya.
Aku
takut kehilanganmu, itu pasti! Tetapi, aku lebih takut kehilangan Allah Swt
dari hatiku. Lagipula ketakutanku beralasan, sebab jika aku lebih takut
kehilangan dirimu daripada kehilangan Allah Swt, maka aku bukanlah orang yang
pantas menjadi pendamping hidupmu. Bukankah dirimu butuh pasangan hidup yang
bisa diajak berkerjasama untuk menuju surga-Nya. Hakikatnya mengabadikan cinta
bukan sebatas kita hidup, tetapi juga hingga kita mati dan dipersatukan kembali
dalam surga.
Mohon
mengertilah; rasa cintaku yang begitu besar padamu ialah dasar utamaku untuk
memutuskanmu. Aku ingin memuliakanmu dengan kemuliaan cinta yang sebenar
diridhoi Allah Swt. Bismillah, mari kita sama-sama mengikhlaskan hati untuk
berpisah demi meraih cinta-Nya untuk cinta kita yang lebih sempurna. []
06.11.2014
Arief Siddiq Razaan, merupakan peramu aksara
yang bermukim di rumah imaji Komunitas Penulis Anak Kampus [KOMPAK]. Selain itu
bergiat pula di Komunitas Bisa Menulis [KBM].

Tidak ada komentar:
Posting Komentar